Strategi Hedging Bisa Berbuah Profit Trading, Mitos Atau Fakta?
1. Situasi Pemicu Strategi Hedging
Banyak trader menyebut strategi hedging adalah teknik trading di level lanjutan. Namun disadari atau tidak, sebagian besar pemula sudah melakukan hedging secara impulsif. Contohnya ketika mereka 'penasaran' dengan order yang tidak bisa profit, kebanyakan akan membuka posisi baru untuk mengejar harga yang berlari di arah berlawanan dari order pertama.
Sementara itu, trader pemula yang melakukan hedging karena terjerat emosi, lebih berisiko bertindak gegabah. Mereka tidak melakukan analisa terhadap volatilitas harga, dan biasanya sering terjebak saat posisi-posisi hedging sudah terkunci (locked). Kebingungan untuk memutuskan mana posisi yang bisa dilepas dan dipertahankan pun mulai menyeruak, sehingga tak jarang mereka akhirnya malah membiarkan posisi terus ter-floating, atau bahkan mengakhiri hedging tanpa dasar yang logis.
Untuk memperjelas pemahaman Anda, berikut adalah contoh strategi hedging terencana dan tidak terencana:
A. Strategi Hedging Terencana
Katakanlah EUR/USD saat ini berada di 1.20000. Anda melakukan open buy dan sell dengan lot yang sama di level tersebut. Sehari kemudian, harga turun ke 1.19500. Saat melihat oscillator, harga sudah berada di level oversold dan ada beberapa tanda bullish reversal dari pembacaan Price Action.
Untuk mengamankan posisi sell yang sudah profit, Anda bisa menutupnya, kemudian membiarkan posisi buy untuk menyambut peluang kenaikan dari bullish reversal. Ketika harga kemudian benar-benar naik, Anda sudah bisa mendapat profit saat harga baru sampai ke level 1.19530. Bagaimana bisa? Posisi buy Anda memang rugi 70 points atau 7 pips, tetapi order sell Anda sudah profit trading 500 points atau 50 pips. Artinya, Anda sudah mendapat keuntungan sebesar 43 pips.
Dalam skenario ini, ada 3 tindakan yang bisa Anda pilih:
- Menutup posisi buy di level 1.19530 dan mendapat keuntungan 43 pips.
- Menutup order buy di level breakeven (1.20000) dan mendapat profit 50 pips.
- Menutup order buy di atas 1.20000 untuk bisa meraih profit trading lebih tinggi.
Pada akhirnya, semua skenario hedging di atas bisa mendatangkan profit. Tentu saja ada risiko harga berbalik turun sebelum benar-benar menyentuh level yang ditargetkan. Oleh karena itu, pemahaman akan kekuatan tren sangat diperlukan di sini, agar Anda tak menetapkan target profit trading yang kelewat jauh.
Strategi dan indikator yang digunakan juga tidak harus sama dengan contoh di atas, yang menggunakan oscillator dan Price Action untuk melihat sinyal reversal. Ada baiknya Anda menggunakan sistem yang sudah teruji berdasarkan pengalaman dan pemahaman trading sendiri.
B. Strategi Hedging Tidak Terencana
Anda melihat peluang kenaikan harga saat EUR/USD menyentuh 1.20000. Tak lama kemudian, order buy pun dibuka untuk mendapatkan profit dari perkiraan tersebut. Ketika harga malah turun ke level 1.19500, Anda panik dan merasa analisa sebelumnya telah keliru. Anda pun membuka order sell di level tersebut, tetapi harga selanjutnya malah naik di 1.19530.
Dalam posisi terkunci seperti itu, posisi buy dan sell Anda sama-sama menderita loss. Karena semua dilakukan tanpa rencana dan analisa, Anda tak tahu apakah harus membiarkan keduanya tetap terbuka, menutup salah satu posisi tersebut, atau mengakhiri keduanya?
Skenarionya seperti ini:
Dua posisi dibiarkan terbuka: Jika harga naik, floating loss dari posisi sell akan terus bertambah, sedangkan posisi buy baru akan breakeven jika harga kembali menyentuh 1.20000. Sementara Anda menanti kemungkinan mana yang memiliki probabilitas paling tinggi, posisi hedging yang sudah terkena dua kali spread itu bisa dibebani lagi oleh bunga swap.
Menutup salah satu posisi: Anda harus benar-benar tahu posisi mana yang harus ditutup, dan di level mana sebaiknya order di-close. Jika kurang perhitungan di salah satu aspek, maka Anda justru bisa menutup posisi yang salah. Mengingat tindakan hedging sebelumnya sudah dilakukan tanpa rencana, maka penutupan posisi pun kemungkinan besar tidak diperhitungkan dengan matang.
2. Pemahaman Strategi Hedging
Sekalipun Anda sudah berniat merencanakan trading dengan strategi hedging, Anda masih perlu mendalami pemahaman lebih lanjut tentang strategi hedging. Situasi di atas tidak selalu terjadi, karena ada kalanya sinyal trading meleset dan Anda malah rugi dua kali.
Di samping itu, strategi hedging terencana kebanyakan memiliki aturan yang tidak sederhana, apalagi jika sudah melibatkan penempatan entry berdasarkan Pending Order, perhitungan lot, juga pengukuran Stop Loss dan Take Profit. Berikut adalah contoh skema strategi hedging terencana yang 'dianggap' simpel:
Selain itu, setiap perhitungan dan keputusan dalam strategi hedging sebaiknya dilakukan dengan kepala dingin dan diambil dengan keputusan se-objektif mungkin. Inilah ujian bagi para trader pendatang baru, karena biasanya mereka sulit berpikir rasional, di kala posisi trading masih terkunci dan dua-duanya floating loss.
3. Pengetahuan Risiko Hedging
Meskipun strategi hedging terencana bisa diatur sedemikian mungkin untuk mendatangkan profit trading, esensi awalnya tetaplah untuk melindungi trading dari risiko loss besar. Dalam menyusun rencana hedging, Anda perlu mengetahui cara meminimalisir risiko dengan strategi hedging lebih dulu, sebelum mengupayakannya untuk mendapat profit trading lebih.
Apabila Anda melihat lagi skema strategi hedging di atas yang 'dianggap' mudah, terlihat bahwa order Sell Stop diatur dengan lot yang lebih besar dari posisi Buy: Sell Stop dibuka dengan 0.3 lot, sedangkan Buy bermuatan 0.1 lot. Perbandingan Stop Loss dan Take Profit antara dua posisi tersebut ditentukan dalam tingkatan yang sama, yakni 1:2 (30 pips : 60 pips). Ini menandakan bahwa trader yang menggunakan strategi tersebut lebih meyakini proyeksi penurunan setelah harga menembus target entry Sell Stop.
4. Jenis Strategi Hedging
Setelah mengetahui pemahaman hedging, tahap berikutnya adalah menerapkan jenis strategi yang tepat. Perlu Anda ketahui, strategi hedging terdiri dari berbagai macam jenis, ada hedging satu pair, hedging korelasi pair, dan lain sebagainya. Masing-masing jenis memiliki kelebihan dan kelemahan yang bisa disesuaikan dengan pemahaman dan toleransi risiko Anda.
Di sisi lain, hedging korelasi pair bisa menjadi solusi atas keterbatasan yang diberlakukan oleh kebijakan broker. Di samping itu, Anda bisa mendapat selisih hedging yang lebih besar. Namun demikian, cara hedging korelasi pair lebih rumit daripada hedging satu pair, karena Anda perlu mencari korelasi terbaik, melakukan analisa di (setidaknya) dua pair, serta mampu mengatasi risiko kesenjangan spread dan swap antara dua pair tersebut.
Penggunaan jenis strategi hedging yang tepat sangat penting, karena Anda tak akan mendapat hasil apapun jika memaksakan cara hedging yang tidak sesuai dengan pemahaman Anda.
5. Dukungan Broker
Satu aspek terakhir yang tak kalah penting adalah kondisi dan spesifikasi broker. Untuk bisa mengolah strategi hedging terencana yang bisa mendatangkan profit trading, tentu sangat diperlukan dukungan layanan dari broker.
Namun demikian, Anda perlu memperhatikan lagi ketentuan-ketentuan broker dalam kondisi tertentu. Hal ini karena ada broker forex yang memperbolehkan hedging untuk trading dalam kondisi normal, tapi melarangnya saat klien mengikuti program bonus, kontes, atau promo broker tertentu.
Selain aturan broker, beberapa spesifikasi broker lain yang perlu diperhatikan adalah:
Spread ketat, untuk meminimalisir biaya trading dari posisi-posisi hedging.
Platform trading, karena ada platform tertentu, seperti MetaTrader 5 yang tidak bisa digunakan untuk hedging satu pair. MT5 hanya dapat memfasilitasi hedging jika broker mengaktifkannya dalam mode hedging, bukan netting.
Eksekusi order, untuk memastikan kelancaran strategi hedging sesuai rencana. Jika broker sering terlambat mengeksekusi order, juga kerap memberlakukan slippage dan requote, maka cara hedging sebaik apapun tak akan mendatangkan profit trading yang diinginkan.
Kesimpulan
Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi hedging yang mendapatkan profit bisa menjadi mitos jika:
- Dilakukan tanpa perencanaan.
- Tidak paham dengan mekanismenya.
- Tidak mendahulukan perlindungan risiko.
- Salah menerapkan jenis strategi hedging.
- Dilakukan di broker yang kondisi-kondisinya tidak mendukung hedging.
Di sisi lain, strategi hedging yang mendatangkan profit trading bisa menjadi fakta jika:
- Dilakukan dengan rencana.
- Sudah paham seluk-beluknya.
- Mengetahui dan mengedepankan faktor risikonya.
- Diterapkan dengan jenis yang tepat.
- Mengandalkan dukungan broker yang optimal untuk hedging.
Jadi sebenarnya, strategi hedging profit yang menjadi mitos atau fakta ada di tangan Anda sendiri. Kuncinya adalah menggunakan aspek-aspek di atas sebagai parameter, lalu memastikan bahwa semuanya sudah terpenuhi.
Sumber :
Seputarforex.com
Welcome Bonus $100
Facebook ForexChief Indonesia
Twitter ForexChief Indonesia